

Alm. H. Sugiarto Rahman
17 September 1962
4 Februari 2024
H. Sugiarto Rahman lahir di Solo pada 17 September 1962 dan wafat di Depok pada 4 Februari 2024. Putra dari Rahman dan Siti Maryam ini menjalani hidup yang tampak sederhana, namun dibangun di atas keputusan-keputusan yang matang. Ia meninggalkan seorang istri, Hj. Nurhayati, serta tiga anak: Dimas Rahman, Rani Sugiarti, dan Fajar Rahman.
Sepanjang hidupnya, Pak Sugi dikenal sebagai guru Matematika SMP Negeri. Jalannya terbagi jelas dalam tiga fase: masa merantau dan merintis karier, masa mengabdi sekaligus membangun keluarga, serta masa membimbing dengan langkah yang semakin tenang. Di satu titik penting dalam hidupnya, ia pernah berada di jalur yang menjanjikan penghasilan lebih besar dan posisi lebih tinggi. Namun arah yang ia pilih berbeda. Ia memilih pulang lebih cepat, dan menjadi lebih dekat dengan keluarga. Keputusan itu membentuk wajah keluarga kami hari ini.
Nuansa hidupnya tenang dan teratur. Tidak banyak pernyataan besar, tidak banyak penjelasan panjang. Yang terlihat justru konsistensi dalam hal-hal kecil yang dijalani bertahun-tahun tanpa berubah arah.
Kisah Hidup
Pak Sugi dibesarkan di Solo dalam keluarga yang hidupnya tidak berlebihan. Ayah bekerja di bengkel kecil, ibu berjualan jajanan pasar. Rumah mereka tidak luas, tetapi disiplin menjadi bagian keseharian. Ada waktu belajar, ada waktu bermain, dan ada tanggung jawab yang dijalani tanpa banyak diingatkan.
Sejak kecil beliau dikenal pendiam dan tekun. Ia pernah berjalan kaki hampir empat kilometer setiap hari menuju sekolah karena tidak ingin membebani orang tua membeli sepeda. Cerita itu disampaikan tanpa nada perjuangan. Seolah memang begitu adanya.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta jurusan Pendidikan Matematika, beliau merantau dan bekerja di perusahaan Jepang di Cikarang sebagai staf administrasi produksi. Gajinya saat itu jauh lebih besar dibanding guru negeri pemula. Lingkungan kerja tertata, peluang promosi terbuka. Tiga tahun berjalan, tawaran posisi supervisor datang. Masa depan terlihat lebih pasti dari sisi materi.
Namun hampir setiap hari ia pulang larut. Ketika anak pertamanya lahir, sering kali ia mendapati rumah sudah terlelap. Suatu malam, menurut cerita Ibu, beliau hanya duduk lama di ruang tamu setelah melihat anaknya tidur. Tidak ada percakapan panjang malam itu. Hanya hening yang pelan-pelan mengubah arah hidupnya.
Beberapa bulan kemudian, beliau mengundurkan diri.
Keputusan itu tidak populer. Sebagian keluarga menyayangkan. Gaji guru jauh lebih kecil, dan hidup harus diatur ulang. Tetapi Pak Sugi memilih mengajar. “Anak tidak bisa ditunda masa kecilnya,” begitu katanya sederhana.
Ia memulai kembali sebagai guru Matematika di SMP Negeri. Ruang kelas menjadi tempatnya berdiri setiap hari. Ia tidak banyak memberi pidato motivasi. Ia menjelaskan langkah demi langkah, mengulang jika perlu, tanpa mempermalukan murid yang salah. Bertahun-tahun kemudian, beberapa murid datang dan mengatakan bahwa pelajaran matematika tidak lagi menakutkan sejak diajar olehnya. Setiap kali itu terjadi, raut wajahnya berubah lebih terang.
Di rumah, kehidupan berjalan apa adanya. Rumah dibangun bertahap. Pernah ada masa atap bocor cukup lama sebelum dapat diperbaiki. Tidak ada keluhan panjang. Tidak ada perbandingan dengan kehidupan orang lain. Rutinitas tetap dijalani: bangun subuh, kopi hitam, koran, berangkat mengajar, pulang sebelum malam terlalu larut.
Beliau sering mengulang satu kalimat yang kami dengar sejak kecil: hidup itu bukan tentang cepat sampai, tetapi tentang tidak menyimpang. Kalimat itu tidak pernah dijelaskan panjang. Ia memilih menunjukkannya lewat cara hidup.
Memasuki tahun-tahun terakhir, kesehatan mulai menurun akibat komplikasi diabetes. Berdiri lama di kelas menjadi semakin berat. Namun selama masih mampu, beliau tetap mengajar. Setelah benar-benar tidak kuat, hari-harinya lebih banyak diisi bersama cucu. Ia duduk, mendengarkan, sesekali tersenyum tipis melihat mereka bermain.
Beberapa minggu sebelum wafat di Depok pada 4 Februari 2024, beliau berkata pelan kepada Ibu bahwa ia tidak menyesal memilih pulang. Kalimat itu diucapkan tanpa nada dramatis. Seperti seseorang yang sedang menyebutkan sesuatu yang sudah selesai dipertimbangkan sejak lama.
Jika suatu hari nanti cucu-cucu kami membaca kisah ini, mungkin mereka akan melihat bahwa kakek mereka pernah berdiri di dua jalan. Ia memilih jalan yang membuatnya lebih sering hadir di rumah, meski dunia menawarkan ukuran keberhasilan yang berbeda.
Galeri Kenangan
Kenangan & Doa
Bagi kami, Bapak identik dengan pagi yang hening. Setelah azan subuh selesai berkumandang dan beliau selesai ibadah, beliau sudah duduk di teras dengan kopi hitam tanpa gula. Koran terbuka rapi, pulpen di tangan memberi tanda pada berita tertentu. Dari dalam rumah, suara halaman koran yang dibalik terasa seperti penanda bahwa hari berjalan sebagaimana mestinya.
Di rumah, beliau jarang meninggikan suara. Jika kami melakukan kesalahan, Pak Sugi lebih memilih diam. Diam yang membuat kami memikirkan ulang sikap sendiri. Cara itu terasa lebih dalam daripada teguran keras.
Di saku bajunya selalu ada uang receh. Untuk tukang parkir. Untuk pedagang kecil. Tidak pernah banyak, tetapi tidak pernah absen.
Saat saya gagal masuk universitas negeri pilihan pertama, saya pulang dengan perasaan takut. Bapak hanya menepuk bahu saya dan berkata pelan, “Yang penting kamu tidak menyerah pada dirimu sendiri.” Kalimat itu singkat. Tetapi cukup untuk membuat saya berdiri lagi.
Saya masih ingat ketika listrik rumah pernah padam hampir semalaman karena telat membayar. Saya kesal dan malu. Bapak tidak marah, tidak juga menyalahkan siapa pun. Beliau justru mengambil lilin, meletakkannya di tengah meja, lalu mengajak saya mengerjakan soal matematika dengan cahaya seadanya. Katanya, “Kalau terang kurang, ya kita tambah fokusnya.” Malam itu bukan tentang soal yang selesai, tapi tentang cara menghadapi keadaan tanpa panik. Sampai sekarang, setiap situasi terasa gelap, saya teringat meja kecil dan nyala lilin itu.
Rani Sugiarti, Anak
Suatu sore saya pernah mengeluh karena teman-teman berangkat sekolah diantar mobil, sementara saya naik motor tua bersama Bapak. Beliau tidak langsung menegur. Esoknya, beliau mengajak saya berangkat lebih pagi. Di jalan, beliau menunjuk orang-orang yang sudah bekerja sejak subuh: tukang sapu, pedagang sayur, pengemudi angkot. “Setiap orang punya waktunya masing-masing,” katanya pelan. Tidak ada ceramah panjang. Sejak hari itu, saya berhenti membandingkan.
Fajar Rahman, Anak
Saya mengenal beliau sebagai rekan sesama guru. Di ruang guru, banyak yang berbicara tentang tunjangan, kenaikan pangkat, atau kebijakan baru. Pak Sugi lebih sering diam sambil memeriksa lembar jawaban murid satu per satu. Ia membaca dengan teliti, bahkan untuk siswa yang nilainya rendah. Pernah saya bertanya mengapa begitu detail. Jawabnya singkat, “Nilai itu angka, tapi usaha anak tidak selalu terlihat.” Dari situ saya belajar bahwa mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan menjaga martabat murid.
Arif Setiawan, Sahabat
Beberapa minggu sebelum beliau wafat, saya duduk di samping tempat tidurnya. Nafasnya tidak sekuat dulu, tetapi tatapannya tetap tenang. Saya tidak banyak bicara waktu itu. Hari ini saya hanya ingin berdoa semoga ketenangan yang selalu Bapak jaga di rumah kini menjadi ketenangan abadi untuk beliau. Semoga setiap langkah yang dulu memilih untuk pulang dibalas dengan perjumpaan yang penuh kedamaian. Kami akan berusaha menjaga arah, sebagaimana dulu Bapak menjaga kami.
Dimas Rahman, Anak Sulung






