top of page

Alm. Ade Harris Kadarisman bin Karnedi

e26b598c-b84b-4ed6-a63e-bd9fd8a5d1a4_edi
e26b598c-b84b-4ed6-a63e-bd9fd8a5d1a4_edi

18 Agustus 1954

22 Juni 2017

e26b598c-b84b-4ed6-a63e-bd9fd8a5d1a4_edi
e26b598c-b84b-4ed6-a63e-bd9fd8a5d1a4_edi

Kenangan Singkat

Ade Harris Kadarisman bin Karnedi adalah sosok ayah yang cerdas, idealis, dan penyayang. Dalam hidupnya, ia pernah melewati masa terang dan masa yang tidak mudah. Ia menjalani hidup dengan keyakinan dan prinsipnya sendiri.

Bagi keluarga, ia adalah ayah yang mengajarkan bahwa manusia bisa keliru, bisa jatuh, namun tetap layak dipahami dan dimaafkan. Dari perjalanannya, kami belajar menerima hidup apa adanya, dengan tenang.

Kisah Hidup

Ade Harris Kadarisman bin Karnedi dikenal sebagai pribadi yang cerdas dan idealis. Di masa mudanya, ia adalah sosok yang menonjol, percaya pada kemampuan diri, dan pernah merasakan keberhasilan. 

Cara berpikirnya sering lebih maju dibandingkan orang-orang di sekitarnya.

Seiring waktu, hidup membawanya pada masa yang tidak sederhana. Ada pilihan-pilihan berat yang harus dihadapi, dan ada masa ketika ia mengambil jarak. 

Perjalanan itu tidak selalu mudah bagi keluarga, terutama bagi anak-anaknya yang tumbuh dengan pertanyaan dan perasaan yang beragam.

Namun waktu memberi ruang untuk memahami. Penjelasan datang, dan bersama itu tumbuh penerimaan. 

Keluarga belajar bahwa manusia, sekuat apa pun, tetap bisa rapuh. 

Bahwa niat baik tidak selalu berjalan mulus, dan bahwa hidup kadang berjalan di luar kendali.

Bagi anak-anaknya, ia tetap seorang ayah—sosok yang penyayang, yang ingin membuktikan bahwa ia mampu berdiri kembali. 

Keinginannya sederhana: kembali dengan harga diri, dan memberi yang terbaik menurut kemampuannya.

Kisah hidupnya meninggalkan pelajaran tentang idealisme, kejatuhan, dan kedewasaan. Tentang memaafkan, memahami, dan menerima manusia bukan dari kesempurnaannya, melainkan dari kejujurannya menjalani hidup.

Galeri Kenangan

Kenangan & Doa

“Semoga segala amal baik Bapak diterima dan segala kekurangannya diampuni.”

— Jaka Wijaksana, anak kedua


“Terima kasih atas nasihat dan pelajaran tentang kehidupan, semoga Bapak diampuni segala khilaf oleh Allah SWT, diberi kebahagiaan dan tenang di sana .”

— Yudha Satriana, anak sulung


“Kenangan bersama Ayah akan selalu menjadi pegangan hidup kami.”

— Aria, anak bungsu


“Doa kami menyertai Ayah, hari ini dan seterusnya.”

— Keluarga besar



Ilaa hadhratin-nabiyyil mushthafaa, Muhammadin shallallaahu ‘alaihi wa sallam, al-Faatihah...
(Membaca Surat Al-Fatihah)

Ilaa hadhrati man ijtama’naa haahunaa bi sababihi, al-marhuum Ade Harirs Kadarisman Bin Karnedi, ghafarallaahu lahu wa nawwara qabrahu, al-Faatihah...
(Membaca Surat Al-Fatihah)

Dzikir Tahlil Singkat

(Dibaca masing-masing 3x atau 7x)

Astaghfirullaahal ‘azhiim.
Subhaanallaahi wa bi-hamdihii, subhaanallaahil ‘azhiim.
Laa ilaaha illallaah.


Allaahummaghfir lahu warhamhu wa ‘aafihi wa‘fu ‘anhu. Allaahumma nawwir qabrahu wa wassi’ madkhalahu.

Allaahummaj’al qabrahu rawdhatan min riyaadhil jannah, walaa taj’al qabrahu hufratan min hufarin-niiraan.

Allaahummaghfir li Ade Harirs Kadarisman Bin Karnedi, warfa’ darajatahu fil mahdiyyiin, wakhlufhu fii ‘aqibihi fil ghaabiriin.

Artinya:

"Ya Allah, ampunilah Ade Harirs Kadarisman Bin Karnedi, kasihilah dia, sejahterakanlah dia, dan maafkanlah kesalahannya. Ya Allah, terangilah kuburnya dan luaskanlah jalannya.

Jadikanlah kuburnya taman dari taman surga, dan jangan jadikan kuburnya lubang dari lubang neraka. Ya Allah, angkatlah derajatnya bersama orang-orang yang mendapat petunjuk, dan berilah pengganti yang baik bagi keturunannya yang ditinggalkan."

"Mengingat dengan tenang sering kali membuat kita merasa lebih dekat."

“Sebentuk Tubuh Tanpa Djiwa, Hanyalah Sebuah Tjangkang, Tanpa Makna.”

bottom of page