

Atikah binti H. Jakaria
1 Desember 1930
13 Februari 2020
Seorang ibu, istri, dan nenek yang menjalani hidup dengan kesabaran, kerendahan hati, dan keteguhan, menjadi penjaga serta penopang keluarga dalam diam dan kasih.
Kenangan Singkat
Emak adalah sosok yang menjalani hidup dengan kesabaran dan kerendahan hati.
Ia dikenal sederhana, penyayang, dan baik hati, lebih banyak bekerja dalam diam tanpa menuntut apa pun.
Setelah kakek wafat lebih dahulu, Emak menjadi penjaga dan penopang keluarga, membesarkan anak-anaknya dalam keterbatasan namun penuh keteguhan. Dalam keluarga, Emak bukan hanya penjaga, tetapi juga pemberi teladan—mengajarkan kekuatan lewat ketenangan.
Di masa mudanya, Emak dikenal jarang keluar rumah, hingga tetangga menjulukinya Putri. Salah satu kenangan yang selalu diingat dengan senyum adalah ketika masa Gerwani, saat semua diwajibkan baris-berbaris, Emak ikut serta mengenakan seragam—sebuah momen sederhana yang kini terasa lucu dan hangat untuk dikenang.
Kisah Hidup
Atikah binti H. Jakaria, yang kami panggil Emak, lahir di kota Tasikmalaya. Menjalani hidup dengan kesabaran dan kerendahan hati. Ia dikenal sebagai pribadi yang sederhana, penyayang, dan baik hati—lebih banyak bekerja dalam diam, tanpa tuntutan, dan tanpa banyak kata.
Dalam perjalanan hidupnya, Emak menghadapi ujian yang tidak ringan. Setelah suaminya, Datim bin Aki Darmi, wafat lebih dahulu, Emak menjadi penjaga dan penopang keluarga. Di saat anak-anaknya masih kecil, Emak memikul tanggung jawab itu dengan keteguhan. Ia menjaga keluarga bukan dengan keluhan, melainkan dengan kesabaran yang terus dijalani hari demi hari.
Di lingkungan sekitar, Emak dikenal sebagai sosok yang jarang keluar rumah. Karena itu, tetangga menjulukinya Putri. Julukan itu bukan karena jarak, melainkan karena kesederhanaan dan ketenangannya dalam menjalani hidup. Salah satu kenangan yang selalu diingat dengan senyum adalah masa ketika semua diwajibkan baris-berbaris; Emak ikut serta mengenakan seragam—sebuah momen sederhana yang kini terasa lucu dan hangat untuk dikenang.
Bagi keluarga, Emak adalah penjaga dan pemberi teladan. Ia mengajarkan bahwa kekuatan tidak selalu hadir dalam suara keras, tetapi dalam ketekunan, kesabaran, dan ketulusan menjalani peran. Hidup Emak adalah contoh tentang bagaimana bertahan, mencintai, dan menjaga keluarga dengan penuh keikhlasan.
Galeri Kenangan
Kenangan & Doa
“Mudah-mudahan Emak diberi kelapangan, ketenangan, dan kebahagiaan.
Dimasukkan ke dalam surga Allah SWT.
Aamiin ya rabbal ‘alamin.”
— Herti Herawati, anak keempat
“Alhamdulillah sejak 2005 hingga Emak berpulang, aku merasakan hidup dan tinggal bersama Emak di Depok, merasakan banyak kasih sayang beliau semasa hidup.
Semoga Emak diampuni segala dosa dan khilaf, serta mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.
Aku tahu Emak sangat sabar meski banyak cobaan.
I love you full, Emak.” ❤️
— Yudha, cucu Emak dari Ibu Herti
Assalaa-mu‘alaikum daaral qaumil mu’miniin, wa innaa insyaa-Allaahu bikum laa-hiquun. Allaahumma-ghfir lahaa war-ham-haa wa ‘aa-fi-haa wa‘fu ‘an-haa, aj‘al qabra-haa raudhathan min riyaa-dhil jannah. Allaahumma-ghfir li-jaddatii al-marhuumah Emak Atikah binti H. Jakaria, war-fa‘ dara-jataa-haa fil ‘illiyyiin waj-ma‘naa bi-haa fii jannatika yaa Rabbal ‘aalamiin.
Artinya:
Salam sejahtera bagi kalian wahai penghuni kubur dari kaum mukmin. Sesungguhnya kami, insyaAllah, akan menyusul kalian. Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, berilah keselamatan dan maafkan segala kekhilafannya. Jadikan kuburnya taman dari taman-taman surga. Ya Allah, ampunilah nenekku yang telah wafat, Emak Atikah binti H. Jakaria, angkat derajatnya di tempat yang tinggi, dan kumpulkan kami bersamanya di surga-Mu, wahai Tuhan seluruh alam.




