

Alm. Iskandar Sulaiman
12 Maret 1944
18 Oktober 2022
Bagi kami, Bapak selalu identik dengan pagi yang hening.
Setelah azan subuh dan selesai menunaikan ibadah, beliau sudah duduk di teras dengan kopi hitam tanpa gula dan koran yang terlipat.
JEJAK KEHIDUPAN:
1944 – Bapak lahir di Bandung
1965 – Mulai mengajar di SMP di Bandung
1972 – Menikah dengan Ibu Nurhayati Rahman
1975 – Kelahiran anak pertama, Fajar Ardiansyah
1980 – Kelahiran anak kedua, Maya Sari
1988 – Dipercaya menjadi wakil kepala sekolah
2004 – Memasuki masa pensiun
2010 – Mulai aktif di kegiatan masjid
2015 – Lebih banyak waktu di rumah dan bersama cucu
2022 – Berpulang di Bandung

Bapak lahir dan dibesarkan di Bandung, dalam keluarga yang sederhana dan penuh kedisiplinan. Dari cerita yang sering kami dengar, masa kecil beliau tidak banyak diisi dengan permainan, tapi lebih pada menjalani hari dengan teratur.
Kakek, ayah Bapak, dikenal tegas. Dari situlah Bapak belajar tentang tanggung jawab dan bagaimana menjalani hidup tanpa banyak mengeluh. Kebiasaan bangun pagi sudah terbentuk sejak masa itu, dan tidak pernah berubah sampai akhir hidupnya.
Bapak pernah mengatakan, hidup tidak perlu banyak keinginan. Yang penting dijalani dengan benar.
Saat dewasa, Bapak memilih menjadi guru. Tahun 1965, beliau mulai mengajar di SMP di Bandung. Itu bukan pilihan yang terlihat besar, tapi menjadi jalan yang beliau jalani sepanjang hidup.
Bapak tidak pernah banyak bercerita tentang pekerjaannya. Tapi dari orang lain, kami tahu beliau mengajar dengan cara yang tenang. Tidak membuat takut, tapi membuat orang mengerti.
Tahun 1988, beliau dipercaya menjadi wakil kepala sekolah. Tapi di rumah, tidak ada yang berubah. Tidak ada cerita tentang jabatan. Tidak ada yang terasa berbeda.
Bapak tetap pulang seperti biasa, tetap duduk di tempat yang sama, tetap menjalani hari dengan cara yang sama.
Dan mungkin karena itu, kami selalu merasa Bapak akan selalu ada seperti itu.
Memasuki masa pensiun tahun 2004, hidupnya tidak berubah banyak, hanya waktunya yang lebih banyak di rumah.
Lebih sering ke masjid, lebih sering duduk diam.
Di tahun-tahun terakhir, Bapak terlihat semakin sederhana, tidak banyak yang berubah dari dirinya.
Dan mungkin itu yang paling kami ingat, bapak tidak pernah berubah.
Sampai akhirnya, yang berubah adalah keadaan kami tanpa beliau.
Kisah Hidup
Kehidupan Keluarga
Tahun 1972, Bapak menikah dengan Ibu Nurhayati Rahman.
Dari situlah keluarga kami dimulai.
Anak pertama lahir, kemudian disusul anak kedua. Rumah menjadi lebih hidup, walaupun tetap dengan suasana yang tenang.
Sebagai ayah, Bapak tidak banyak berbicara.
Kami tidak pernah sering dinasihati panjang.
Tidak juga sering dimarahi.
Kalau kami salah, beliau hanya mengingatkan pelan.
Tapi entah kenapa, itu cukup.
Justru dari cara beliau diam, kami belajar banyak hal.
Bapak tidak pernah terlihat menuntut kami menjadi apa.
Tapi cara beliau hidup membuat kami merasa harus menjadi lebih baik.
Dan sekarang, setelah beliau tidak ada, kami baru menyadari—
banyak hal yang dulu kami anggap biasa, ternyata adalah cara beliau menjaga kami.
Rumah & Kenangan
Kalau kami mengingat Bapak, yang muncul bukan hanya wajahnya, tapi suasana rumah.
Teras adalah tempat yang paling kami ingat.
Ada satu kursi yang hampir selalu beliau pakai.
Di sampingnya, cangkir kopi hitam tanpa gula.
Dan koran yang dibaca perlahan.
Pagi hari terasa tenang.
Terlalu tenang, mungkin dulu kami tidak terlalu menyadarinya.
Sekarang, kursi itu masih ada.
Terasnya masih sama.
Tapi tidak pernah benar-benar terasa sama sejak Bapak tidak duduk di sana lagi.
Di ruang tengah, Bapak sering duduk diam.
Tidak selalu menyalakan TV.
Kadang hanya duduk.
Dan anehnya, justru itu yang membuat rumah terasa penuh.
Sekarang, rumah masih sama.
Tapi rasanya berbeda.
Kebiasaan yang Diingat
Bapak menjalani hidup dengan pola yang hampir tidak berubah.
Bangun sebelum subuh.
Duduk di teras setelah salat.
Membaca koran.
Minum kopi hitam tanpa gula.
Tidak terburu-buru.
Tidak tergesa-gesa.
Dulu kami melihat itu sebagai rutinitas biasa.
Sekarang, kami menyadari—
itulah cara Bapak menjalani hidup dengan tenang.
Dan kami belum tentu bisa seperti itu.
Nilai Hidup
Bapak tidak banyak mengajarkan lewat kata-kata.
Tapi dari hidupnya, kami belajar.
Tentang menjalani tanggung jawab tanpa banyak bicara.
Tentang hidup sederhana tanpa merasa kurang.
Tentang kesabaran yang tidak perlu ditunjukkan.
Bapak tidak pernah terlihat mengeluh.
Dan mungkin itu yang paling sulit untuk kami tiru.
Cerita Tambahan
Beberapa orang yang pernah menjadi muridnya masih mengingat Bapak.
Bukan karena beliau keras.
Justru karena sebaliknya.
Mengajar dengan tenang.
Tidak banyak bicara.
Tapi jelas.
Ada yang pernah bilang,
“Pak Iskandar itu kalau mengajar pelan, tapi masuk.”
Dan itu rasanya memang menggambarkan beliau.

Kenangan & Doa
Fajar Ardiansyah (Anak)
Bapak adalah orang yang sangat tenang. Bahkan ketika kami masih kecil, beliau jarang sekali marah. Cara beliau mengingatkan selalu pelan, tapi kami tahu beliau serius. Sekarang setelah beliau tidak ada, yang paling terasa justru ketenangan itu yang hilang dari rumah.
Maya Sari (Anak)
Saya selalu ingat bapak membaca koran setiap pagi dengan secangkir kopi. Dulu saya sering lewat begitu saja. Sekarang justru itu yang paling saya rindukan.
Nurhayati Rahman (Istri)
Terima kasih untuk semua tahun yang sudah kita jalani bersama. Dari awal sampai akhir, tidak pernah berubah. Tetap tenang, tetap sabar. Rumah ini masih sama, tapi rasanya tidak lagi seperti dulu sejak kamu tidak ada. Semoga Allah memberikan tempat terbaik untukmu.
Aisyah Nur Fajar (Cucu, 8 tahun)
Aku kangen kakek.
Biasanya kakek duduk di depan rumah, aku suka ikut duduk walaupun aku cuma main sendiri.
Kakek tidak banyak bicara, tapi aku senang dekat kakek.
Sekarang kursinya masih ada, tapi kakek sudah tidak ada.
Aku kadang lihat kursinya dan jadi ingat kakek.
Semoga kakek di surga dan bisa lihat aku dari sana.

Bapak sudah berpulang.
Dan kami tahu, beliau memang sudah tidak ada.
Tapi ada hal-hal yang tidak ikut pergi.
Pagi yang hening itu masih terasa.
Kursi di teras itu masih mengingatkan.
Cara beliau menjalani hidup, masih kami bawa sampai hari ini.
Dulu semuanya terasa biasa.
Sekarang, justru itu yang paling kami jaga agar tidak hilang.
Bagikan halaman ini kepada keluarga dan kerabat.
Agar jejak kehidupan tidak memudar dan hilang.




