

Hj. Yulia Atikah
28 Juli 1960
28 Oktober 2024
Di rumah, Omah Yuli dikenal sebagai pribadi yang hangat dan mudah bergaul. Ia murah senyum, ramah kepada siapa saja yang ditemui, dan tidak membeda-bedakan orang yang datang ke rumahnya.
Salah satu kebiasaan yang paling sering dikenang adalah ketika anak-anak datang berkunjung. Hampir selalu ada oleh-oleh yang disiapkan untuk mereka, bahkan ketika keadaan dirinya sendiri sebenarnya sedang tidak berlebih. Memberi terasa seperti hal yang alami baginya.
Beliau juga sangat menikmati waktu-waktu santai di rumah, terutama menonton sinetron di televisi. Hal sederhana itu sering menjadi cara beliau melepas lelah setelah menjalani rutinitas harian.
Kebahagiaan terbesar baginya tidak pernah jauh dari keluarga. Melihat anak-anak dan cucu-cucunya berkumpul dengan wajah gembira sudah cukup membuat hari terasa lengkap.

Hj. Yulia Atikah lahir di Jakarta pada 28 Juli 1960, putri dari Idris Hakim dan Siti Maimunatun. Dalam keluarga, beliau lebih akrab dipanggil Omah Yuli. Sebagian besar hidupnya dijalani dengan sederhana: bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil sejak lulus kuliah hingga masa pensiun, membesarkan keluarga, dan menjaga kedekatan dengan anak-anak serta cucu-cucunya.
Di rumah, keseharian beliau tidak pernah jauh dari dua hal: keluarga dan ibadah. Sholat lima waktu selalu dijaga tepat waktu, dan membaca Al-Qur’an menjadi rutinitas yang tidak ditinggalkan. Bagi orang-orang di sekitarnya, senyum yang mudah muncul di wajahnya sering menjadi hal pertama yang diingat.
Pada masa pensiun, beliau menghadapi ujian yang tidak ringan. Selama sekitar dua tahun, Omah Yuli menjalani perjuangan melawan kanker payudara. Masa itu menjadi fase yang berat bagi keluarga, namun juga memperlihatkan kesabaran dan keteguhan yang selama ini sudah dikenal oleh orang-orang terdekatnya.
Bagi anak-anak dan cucunya, kehadiran beliau selalu terasa dalam hal-hal sederhana: perhatian kecil, kebiasaan memberi, dan cara beliau menjaga keluarga tetap dekat satu sama lain.
Kisah Hidup
Hj. Yulia Atikah dibesarkan di Jakarta. Masa kecilnya berlangsung di lingkungan kota yang ramai, namun nilai-nilai yang ditanamkan oleh keluarga tetap sederhana: hidup dengan kesabaran, menjaga hubungan dengan orang lain, dan tidak lupa pada kewajiban kepada Tuhan.
Setelah menyelesaikan pendidikan, beliau memulai karier sebagai Pegawai Negeri Sipil. Pekerjaan itu dijalani sejak awal hingga masa pensiun. Rutinitas kerja yang panjang dijalani dengan konsisten, menjadi bagian penting dari kehidupannya sebagai seorang ibu sekaligus seorang pekerja.
Di rumah, kehidupan keluarga dijalani bersama suaminya, H. Sonny Suwarso, serta ketiga anak mereka: Solly Oksudadri Putra, Novita Sulitansy, dan Tria Janisa Suliany. Perhatian kepada anak-anak menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kesehariannya.
Cara beliau menunjukkan kasih sayang sering kali hadir melalui tindakan kecil. Menyediakan makanan ketika anak-anak pulang, memberi oleh-oleh ketika mereka datang berkunjung, atau sekadar memastikan semua orang dalam keadaan baik.
Kalimat yang sering diingat oleh keluarga menggambarkan kebiasaannya memberi tanpa terlalu memikirkan diri sendiri. Bagi beliau, membantu atau berbagi dengan orang lain terasa lebih penting daripada menahan sesuatu untuk dirinya.
Kesabaran dan kepedulian menjadi nilai yang paling terasa dalam kehidupannya. Kedua hal itu tidak selalu diucapkan secara langsung, tetapi terlihat dari cara beliau menjalani hari-hari bersama keluarga. Memasuki masa pensiun, hidup berjalan lebih tenang.
Waktu di rumah lebih banyak dihabiskan bersama keluarga, menikmati kebersamaan dengan anak-anak dan cucu-cucu yang datang berkunjung. Namun pada fase inilah ujian besar datang. Selama sekitar dua tahun, beliau menghadapi penyakit kanker payudara.
Masa ini menjadi perjalanan yang tidak mudah, baik bagi dirinya maupun keluarga. Hari-hari dijalani dengan kesabaran yang sama seperti yang selama ini dikenal oleh orang-orang terdekatnya. Tidak banyak keluhan yang keluar dari dirinya. Keluarga melihat bagaimana beliau tetap berusaha menjalani hari dengan tenang meskipun kondisi kesehatan semakin menantang.
Pada 28 Oktober 2024 di Tangerang, kehidupan beliau sampai pada akhirnya. Bagi keluarga, yang tertinggal bukan hanya ingatan tentang seorang ibu, tetapi juga cara hidup yang sederhana: bersabar, tetap bersyukur atas apa yang telah diberikan Allah, dan tidak berhenti peduli kepada orang lain.















