
Halaman Memorial

Budi Hartono Wijaya
14 Februari 1954
18 Oktober 2024
Setiap pagi, sebelum rumah benar-benar terbangun, Budi Hartono Wijaya telah lebih dahulu memulai harinya. Setelah merapikan tempat tidur, beliau menyeduh kopi hitam tanpa gula, lalu berdiri beberapa saat di depan salib kecil di ruang keluarga untuk berdoa. Di saku kiri kemejanya selalu tersimpan sapu tangan, sementara di meja makan sudah terbuka buku catatan yang berisi daftar barang, pesanan pelanggan, dan rencana pekerjaan hari berikutnya.
Rutinitas itu berlangsung bertahun-tahun. Dahulu terasa biasa. Kini, suara langkah kaki beliau setiap pagi, aroma kopi hitam, dan keheningan sebelum berangkat ke toko menjadi kenangan yang paling sering kembali hadir di rumah yang beliau tinggalkan.

Budi Hartono Wijaya lahir di Bandung pada 14 Februari 1954 dan wafat di Jakarta pada 18 Oktober 2024. Beliau dikenal sebagai suami, ayah, kakek, sekaligus pendiri usaha keluarga di bidang bahan bangunan yang dibangun bersama istri sejak masa-masa yang sederhana.
Perjalanan hidup beliau berlangsung melalui kerja yang tekun, tanggung jawab yang dijaga setiap hari, dan keyakinan bahwa nama baik jauh lebih berharga daripada keuntungan sesaat. Di rumah beliau hadir melalui perhatian-perhatian kecil. Di tempat usaha beliau membangun kepercayaan dengan pelanggan serta memperlakukan karyawan sebagai bagian dari perjalanan keluarga. Kehidupan beliau memperlihatkan bahwa kesederhanaan, ketepatan waktu, kejujuran, dan penghormatan kepada sesama bukan sekadar prinsip, melainkan kebiasaan yang dijalani setiap hari.

Kisah Hidup
Perjalanan beliau dimulai jauh sebelum usaha keluarga dikenal banyak orang. Bersama Christina Gunawan, beliau menikah pada tahun 1981 dan memulai kehidupan rumah tangga dalam keadaan yang sederhana. Hari-hari mereka banyak dihabiskan menjaga toko. Liburan hampir tidak pernah menjadi bagian dari kehidupan saat itu karena setiap hari dipandang sebagai kesempatan untuk membangun masa depan keluarga sedikit demi sedikit.
Malam hari, setelah anak-anak tertidur, beliau masih duduk di meja makan. Buku catatan terbuka di hadapannya. Stok barang dihitung, pesanan pelanggan dicatat, dan pekerjaan esok hari direncanakan dengan tenang. Walaupun lelah, beliau jarang mengeluh. Bagi beliau, kehidupan yang baik dibangun melalui kerja keras, bukan jalan pintas.
Usaha itu bertumbuh perlahan. Namun pertumbuhan tidak mengubah cara beliau menjalani hidup. Rumah tetap sederhana. Kendaraan hanya diganti ketika benar-benar tidak layak digunakan. Barang-barang di rumah dipakai selama masih berfungsi. Kesederhanaan bukan sesuatu yang diucapkan, melainkan dijalani.
Anak-anak mengenang bahwa toko bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga tempat belajar kehidupan. Ketika mulai ikut bekerja, mereka tidak langsung diajarkan cara menjual barang. Beliau lebih dahulu mengajarkan cara menyapa pelanggan, mengangkat barang bersama karyawan, membersihkan toko, dan mendengarkan kebutuhan orang lain sebelum menawarkan sesuatu. Pemilik usaha, menurut beliau, tidak boleh merasa lebih tinggi daripada orang yang bekerja bersamanya.
Kepercayaan menjadi fondasi yang terus dijaga. Pernah ada pelanggan yang membayar lebih karena salah menghitung. Uang itu langsung dikembalikan. Di kesempatan lain beliau menolak kerja sama yang menjanjikan keuntungan besar karena cara yang ditempuh tidak sesuai dengan prinsip yang beliau pegang. Bagi beliau, keuntungan dapat dicari kembali, tetapi kepercayaan belum tentu kembali apabila telah hilang.
Kepemimpinan beliau juga terlihat melalui hal-hal yang sederhana. Ketika terjadi kesalahan, beliau lebih memilih berbicara secara pribadi daripada mempermalukan seseorang di depan orang lain. Beliau ikut menyapu lantai toko ketika diperlukan, mengenal keluarga para karyawan, mengingat ulang tahun anak-anak mereka, serta membantu tanpa merasa perlu menceritakannya kepada siapa pun.
Di rumah, kasih sayang beliau lebih sering hadir melalui tindakan daripada kata-kata. Ketika istri sakit, beliau pulang lebih cepat. Ketika melihat istrinya lelah, beliau diam-diam mengambil alih pekerjaan rumah. Beliau selalu bertanya, "Hari ini semua sehat?" ketika pulang dari toko. Setiap malam sebelum tidur, seluruh pintu dan jendela diperiksa satu per satu seperti yang telah dilakukan selama bertahun-tahun.
Walaupun kesibukan pekerjaan sering membuat waktu bersama keluarga menjadi terbatas, beliau berusaha hadir pada momen-momen penting. Kelulusan anak-anak, ulang tahun keluarga, dan perayaan Natal hampir tidak pernah beliau lewatkan. Ketika anak-anak mulai berkeluarga, beliau lebih banyak mendengarkan daripada memberi nasihat. Dengan tenang beliau mengajak mereka mempertimbangkan setiap keputusan tanpa pernah memaksakan kehendak.
Kelahiran cucu-cucu membawa warna baru dalam kehidupannya. Sosok yang dahulu begitu sibuk di toko berubah menjadi kakek yang menunggu cucu datang di ruang tamu. Permen kecil selalu tersedia di laci meja. Beliau duduk menemani mereka bermain, menyusun balok, menggambar, membaca koran bersama, atau sekadar menepuk kursi di sebelahnya agar cucunya duduk menemani. Sebelum mereka pulang, beliau sering menyelipkan uang saku, mengusap kepala mereka, dan mengingatkan agar rajin belajar.
Menjelang akhir hidupnya, kesehatan beliau mulai menurun. Namun hampir setiap pagi beliau tetap datang ke toko walaupun hanya sebentar. Beliau ingin menyapa para karyawan yang telah berjalan bersamanya selama bertahun-tahun karena bagi beliau mereka bukan sekadar pekerja, melainkan bagian dari perjalanan hidup keluarga.
Sahabat-sahabat lamanya mengenang beliau sebagai pribadi yang sabar, selalu datang tepat waktu, lebih suka mendengar daripada berbicara, serta tidak pernah berubah walaupun usahanya berkembang. Keberhasilan tidak mengubah cara beliau memperlakukan orang lain. Beliau tetap menjadi sahabat yang menghargai setiap pertemuan, secangkir kopi hitam, dan percakapan sederhana yang sering berakhir hingga ke tempat parkir.

Kenangan & Doa
Christina Gunawan — Istri
"Terima kasih sudah berjalan bersama saya selama lebih dari empat puluh tahun. Kita memulai semuanya dari keadaan yang sangat sederhana. Saya bersyukur boleh melihat bagaimana Tuhan membentuk kehidupan kita sedikit demi sedikit. Saya tidak hanya kehilangan seorang suami, tetapi juga sahabat yang selalu berjalan di samping saya. Semoga Tuhan menerima segala kebaikanmu, mengampuni segala kekuranganmu, dan memberikan kedamaian yang kekal. Kami akan terus menjaga keluarga ini dengan nilai-nilai yang selama ini engkau wariskan."
Andreas Wijaya — Anak Pertama
"Terima kasih, Pa. Semakin saya menjalani hidup, semakin saya memahami bahwa banyak keputusan yang saya ambil ternyata mengikuti teladan Papa. Saya berharap dapat menjaga keluarga, usaha, dan nama baik yang Papa bangun dengan penuh kesabaran selama puluhan tahun. Semoga Tuhan menerima segala kebaikan Papa dan memberikan kedamaian yang kekal."
Maria Wijaya — Anak Kedua
"Papa... Terima kasih sudah menjadi tempat kami pulang. Semakin bertambah usia, saya semakin memahami bahwa kasih sayang sering kali hadir dalam perhatian-perhatian kecil yang dulu tidak saya sadari. Saya berharap anak-anak kami kelak tetap mengenal Papa melalui cerita yang akan terus kami sampaikan. Semoga Tuhan menerima Papa dalam damai dan menjaga keluarga kami agar tetap hidup dalam kasih, kejujuran, dan persatuan yang selama ini Papa teladankan."
Nathan Wijaya — Cucu
"Kung... Terima kasih sudah menjadi bagian yang sangat indah dalam masa kecil saya. Saya masih ingat setiap kali duduk menemani Kung membaca koran walaupun saya sendiri belum mengerti apa yang sedang dibaca. Sekarang saya mengerti bahwa yang paling saya rindukan bukan hanya kebersamaan itu, tetapi rasa tenang yang selalu saya rasakan ketika berada di dekat Kung. Semoga Tuhan memberikan tempat terbaik untuk Kung. Saya akan terus mengingat semua kebaikan yang Kung tunjukkan kepada kami."
Hendry Susanto — Sahabat Lama
"Terima kasih, Budi. Persahabatan kita mengajarkan kepada saya bahwa keberhasilan tidak harus mengubah cara seseorang memperlakukan orang lain. Saya bersyukur pernah berjalan bersama dalam sebagian perjalanan hidupmu. Semoga Tuhan menerima segala kebaikanmu dan memberikan kedamaian yang kekal. Saya akan selalu mengenangmu sebagai sahabat yang rendah hati, jujur, dan setia kepada keluarga maupun teman-temannya."

Setelah beliau tiada, keluarga tidak hanya mengenang perjalanan panjang membangun usaha atau keberhasilan yang telah diraih. Yang paling sering kembali justru langkah kaki di waktu subuh, aroma kopi hitam, buku catatan yang selalu menemani, sapaan sederhana ketika pulang ke rumah, serta kursi di ruang tamu yang dahulu menjadi tempat menunggu anak dan cucu datang.
Melalui kebiasaan-kebiasaan kecil itulah kehidupan Budi Hartono Wijaya tetap hadir di tengah keluarga—tenang, sederhana, dan terus mengingatkan bahwa kepercayaan, perhatian, dan kasih sayang dapat hidup paling lama ketika diwujudkan setiap hari.







